·
TEORI GAGNE
Menurut Gagne belajar matematika terdiri dari objek
langsung dan objek tak langsung. objek tak langsung antara lain kemampuan
menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah, ketekunan, ketelitian, disiplin
diri, bersikap positif terhadap matematika. Sedangkan objek tak langsung berupa
fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip.Fakta adalah konvensi (kesepakatan)
dalam matematika seperti simbol-simbol matematika. Konsep adalah ide
abstrak yang memunkinkan seseorang untuk mengelompokkan suatu objek dan
menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan contoh dari ide
abstrak tersebut.
Menurut Gagne belajar melalui empat fase
utama yaitu:
- Fase pengenalan (apprehending phase). Pada fase ini siswa
memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami
stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara.
ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa,
dan sebagai akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya
karena cara yang unik yang dia terima pada situasi belajar.
- Fase perolehan (acqusition phase). Pada fase ini siswa
memperoleh pengetahuan baru dengan menghubungkan informasi yang
diterima dengan pengetahuan sebelumya. Dengan kata lain pada fase ini
siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi
lama.
- Fase penyimpanan (storage phase). Fase storage/retensi adalah
fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka
pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi dalam
memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang.
- Fase pemanggilan (retrieval phase). Fase Retrieval/Recall,
adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada
dalam memori. Kadang-kadang dapat saja informasi itu hilang dalam memori
atau kehilangan hubungan dengan memori jangka panjang. Untuk lebih daya
ingat maka perlu informasi yang baru dan yang lama disusun secara
terorganisasi, diatur dengan baik atas pengelompokan-pengelompokan menjadi
katagori, konsep sehingga lebih mudah dipanggil.
Fase lain yang dianggap
tidak utama :
1. Fase
Motivasi
Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan merekatentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik.
Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan merekatentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik.
2.
Fase Pengenalan
Siswa harus memberi perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kajian instruksional, jika belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan tentang apa yang dikatakan guru, atau tentang gagasan-gagasan utama dalam buku teks.
Siswa harus memberi perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kajian instruksional, jika belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan tentang apa yang dikatakan guru, atau tentang gagasan-gagasan utama dalam buku teks.
3.
Fase Perolehan
Bila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi tidak langsung terserap dalam memori ketika disajikan, informasi itu di ubah kedalam bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan materi yang telah ada dalam memori siswa.
Bila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi tidak langsung terserap dalam memori ketika disajikan, informasi itu di ubah kedalam bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan materi yang telah ada dalam memori siswa.
4.
Fase Retensi
Informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya.
Informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya.
5.
Fase Pemanggilan
Mungkin saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalam memori jangka-panjang. Jadi bagian penting dalam belajar adalah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah dipelajari, untuk memangil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
Mungkin saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalam memori jangka-panjang. Jadi bagian penting dalam belajar adalah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah dipelajari, untuk memangil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
6.
Fase Generalisasi
Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasiatau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat ditolong dengan memintapara siswa untuk menggunakan informasi dalam keadaan baru.
Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasiatau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat ditolong dengan memintapara siswa untuk menggunakan informasi dalam keadaan baru.
7.
Fase Penampilan
Siswa harus memperhatikan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan yang tampak.
Siswa harus memperhatikan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan yang tampak.
8.
Fase Umpan Balik
Para siswa memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Para siswa memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Menurut Gagne mengajar terdiri dari
sejumlah kejadian-kejadian tertentu yang dikenal dengan ”Nine Instruction
events” yang dapat diuraikan sebagai berikut:
- Memelihara perhatian (Gain attention). Dengan stimulus eksternal kita
berusaha membangkitkan perhatian siswa untuk belajar
- Menjelaskan tujuan pembelajaran (Inform Lerners of Objectives).
Menjelaskan kepada siswa tujuan dan hasil apa yang diharapkan setelah
belajar. Ini dilakukan dengan komunikasi verbal.
- Meransang ingatan siswa (Stimulate recall of prior learning).
Meransang ingatan siswa untuk mengingat kembaali konsep, aturan dan
keterampilan yang merupakan prasyarat agar memahami pelajaran yang akan
diberikan.
- Manyajikan stimulus (Present the content). Menyajikan stimuli yang berkenaan
dengan bahan pelajaran sehingga siswa menjadi lebih siap menerima
pelajaran.
- Memberikan bimbingan (Provide “learning guidance”). Memberikan
bimbingan kepada siswa dalam proses belajar
- Memantapkan apa yang telah dipelajari (Elicit performance/practice).
Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan
untuk menrapkan apa yang telah dipelajari itu.
- Memberikan umpan balik (Provide feedback). Memberikan feedback atau
balikan dengan memberitahukan kepada siswa apakah hasil belajarnya benaar
atau tidak.
- Menilai hasil belajar(Assess performance). Menilai hasil-belajar
dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengetahui apakah ia telah
benar menguasai bahan pelajaran itu dengan membrikan soal.
- Mengusahakan transfer (Enhance retention and transfer to the job).
Mengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk
menggeneralisasikan apa yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat
menggunakannya dalam situasi-situasi yang lain.
Kelebihan teori gagne : pentingnya perencanaan pembelajaran
dikelas agar dapat efektif dan efisien.
Kekurangan teori gagne
: ketika guru tidak mempunyai kemampuan psikologis maka akan kesulitan dalam
proses mengajar.
·
TEORI ALBERT BANDURA
Albert
Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran social (Social Learning
Teory) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada
komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi. Ia seorang psikologi
yang terkenal dengan teori belajar social atau kognitif social serta efikasi
diri. Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang
menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa
disekitarnya.
Teori kogoitif sosial (social
cognitive theory) yang dikemukakan oleh Albert Bandura menyatakao
bahwa faktor sosial dan kognitif serta factor pelaku memainkan peran penting
dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi/ penerimaan siswa untuk
meraih keberhasilan, factor social mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku
orang tuanya
Bandura
mengembangkan model deterministic resipkoral yang terdiri dari tiga faktor
utama yaitu perilaku, persnn/kogoitif dan lingkungan. Faktor ini bisa saling
berinteraksi dalam proses pembelajaran. Faktor lingkuogan mempengaruhi
perilaku, perilaku mempengaruhi lingkungan, faktor person/kognitif mempengaruhi
perilaku. Faktor person Bandura tak punya kecenderungan kognitif terutama
pembawaan personalitas dan temperamen. Faktor kognitif mencakup ekspektasi,
keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan
teori belajar sosial adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
-
Mementingkan pengaruh lingkungan.
-
Mementingkan bagian-bagian.
-
Mementingkan peranan reaksi.
-
Mengutamakan mekanisme terbentuknya
hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
-
Mementingkan peranan kemampuan yang
sudah terbentuk sebelumnya.
-
Mementingkan pembentukan kebiasaan
melalui latihan dan pengulangan.
-
Hasil belajar yang dicapai adalah
munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang
menggunakan paradigma behaviorisme (teori belajar sosial) akan menyusun bahan
pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus
dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi
ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan
sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari
yang sederhana samapi pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang
ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran
berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera
diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan
dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori
behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku
yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai
mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku
yang tampak.
Kritik terhadap behavioristik (teori belajar sosial)
adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan
hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat
tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan
tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran
bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan
kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk
perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung
unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan
dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari,
menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok
diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang
dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan
bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam
suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran
yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap
otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa
yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar,
dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya
mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar
dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat
dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling
efektif untuk menertibkan siswa.
KESIMPULAN PEMBELAJARAN :
Teori Ausebel :
terkenal dengan belajar bermakna
Teori Gagne :
belajar matematika melalui 2 obyek yaitu langsung dan tak langsun
Teori Barunda : belajar melalui menru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar